Limbung

Hujan dan badai tak henti mengguyur ibukota. Banjir adalah hal biasa yang harus kami sikapi sudah hampir sebulan ini. Banjir, lelah pekerjaan, tua di jalan akibat macet, membuat tubuh Vatsa limbung.

Pagi itu seperti biasa aku bangun lebih dulu untuk memasak. Namun tak biasanya kudengar rintihan kecil dari kamar kami. Aku tak tenang. Segera kutengok Vatsa. Kedua tangannya memegang erat perutnya. Tanganku gemetar.

“Vatsa, sayang,” Kuraba keningnya. Suhu badannya panas, dan telapak tangannya berkeringat.
“Arrghh…” erangnya lirih memegangi perut. Aku panik. Segera kuputuskan membawa Vatsa ke rumah sakit terdekat. Aku tak kuat mengangkat tubuhnya. Namun dia adalah suami yang kooperatif. Berpura-pura masih kuat dan menumpukan tangan kanannya pada bahu kananku agar bisa berjalan menuju mobil.

Sebelumnya kumasukkan semua bahan masakan yang sedianya kumasak untuk sarapan. Kulaju mobil dengan kecepatan tinggi, seraya sesekali menggenggam tangan Vatsa. Dia mencoba tersenyum meskipun mukanya sangat pucat.

Setiba di rumah sakit, dokter memintaku tetap tenang. Vatsa masuk UGD. Aku duduk di depan ruang UGD. Awalnya ingin kuberitahu mama. Namun kuurungkan, agar mama tidak panik juga. Lima belas menit kemudian doter keluar dari ruang UGD. Suster perawat membawa Vatsa ke ruang Anggrek. Dokter memberitahu bahwa Vatsa mengalami asam lambung akut. Dia butuh istirahat di rumah sakit, setidaknya untuk seharian ini sambil menunggu perkembangan kondisinya.

Kuputuskan menutup butik. Biar sekaligus Rein, asistenku di butik istirahat juga. Aku ingin full menemani kekasih hidupku. Kubuka pintu ruang anggrek 1 pelan-pelan. Tangan Vatsa terbalut selang infus. Wajahnya pucat sekali. Matanya mengatup beberapa kali, lalu memaksakan diri untuk bangun.

“Sayang,” kuraih jemarinya. Dia tersenyum lemah, memintaku mendekatkan pada telinganya.
“Aku haus, sayang,” ucapnya lirih. kubelalakkan mata pura-pura kesal. Haus, adalah istilah kami untuk bir.
“Tidak, sayang. Tidak saat ini. Kamu gak mau tau kenapa kamu di sini?” aku menggeleng menolak permintaan hausnya.
“Perutku sakit sekali. Seperti ditusuk-tusuk tadi pagi. Mungkin seperti itu yang kamu rasakan ketika mens ya?” jelas Vatsa sesekali masih terdengar mengerang.
“Sakit apa aku pidolan?” tanyanya.
“Asam lambung,” jawabku singkat. Padahal selama ini aku tak pernah membiarkan dia melewatkan sarapan. Tiap siang kuingatkan untuk makan. Dan malam kami selalu makan bersama pula. Kadang memang agar bervariasi, tiap weekend kami beli makan di luar.

Terdengar ketukan dari luar. Dokter memintaku untuk membiarkan Vatsa tidur beberapa jam. Aku menurut. Mengecup dahi dan mencium Vatsa, kemudian aku keluar ruangan. Ngobrol sebentar dengan dokter yang menanganinya.
“Dok, apakah ada penyebab lain dari asam lambung selain makanan?” tanyaku seraya menyusur koridor.
“Ya, tentu. Stres juga bisa menjadi pemicu,” jawab dokter berparas ayu itu, lalu pamit kembali bekerja. Aku menuju cafe yang ada sebelah pintu masuk lobi rumah sakit. Secangkir americano menemaniku merenung. Menduga-duga jika memang benar faktor stres, apa yang membuat dia begitu stres?

Senin

13 Januari 2017.

Term 2 dan 3 ini, saya mendapat tugas istimewa di pagi hari. Untuk menyapa anak-anak dan mengecek temperatur tubuh mereka. Anak-anak, mulai dari SD kelas 1 hingga SMA kelas 2. Berbagai wajah dalam setengah jam selama tugas, saya amini sebagai penyemangat baru di awal minggu.Ada wajah baru bangun tidur (biasanya anak2 SMP-SMA), ada yang matanya merah bekas nangis (biasanya anak2 SD kelas kecil yang gak mau sekolah), ada wajah2 tanpa senyum meski saya menyapa, “Selamat pagi”, ada yang sudah semangat membalas sapaan saya meski baru turun dari mobil. Dan selalu ada dua kakak beradik yang akan berhenti di depan saya untuk memasukkan baju dan memakai dasi, setelah itu baru berani melewati pagar saya.

Setiap Senin yang berbeda, pasti ada cerita menarik yang sebenarnya sudah tertulis rapi di pikiran. Namun pekerjaan yang menumpuk (Maaf jadi menyalahkan pekerjaan), saya tidak sempat menuangkannya ke dalam blog.

Dan Senin tadi pagi, pengalaman baru yang saya dapatkan adalah diminta sopir antarjemput sekolah, untuk membujuk satu anak yang tidak mau keluar mobil. Saya duga anak ini masih kelas satu SD. Dia duduk di jok paling belakang, mengeratkan tubuhnya agar tak seorangpun kuat mengangkatnya. Tak berhenti menangis dan minta pulang. Sang sopir pun bingung karena dia hanya sopir mobil antarjemput anak sekolah.

Jadi lah pak satpam meminta tolong saya. Saya juga bingung sebenarnya. Sebab saya tidak suka berkomunikasi dengan anak kecil. Saya tidak bisa dan tidak mau mengajar anak kecil. Lalu saya masuk ke mobil. Saya duduk di sampingnya, meraih kedua tangannya.

Saya : Halo, ada apa? (saya tidak tahu namanya)
Murid : (menggeleng dan tangisnya semakin keras)
sopir : Gak mau turun miss
Saya : Turun yuk, sekolah dulu
murid : (menggeleng keras) Gak mau sekolah! Aku ngantuk! Mau pulang!
Saya : (menghela nafas panjang, bingung, he..he..) Kamu mau pulang?
Murid : (mengangguk) Iya, aku ngantuk…
Saya : Ya udah nanti miss anter pulang ya. Tapi sekarang turun dari mobil dulu.
Murid : (menggeleng, tangisnya mulai reda) Tapi nanti ada tes
Saya : Nah kalo gitu sekolah dulu. Tes dulu ya
Murid : (menatap saya) Iya
Saya : (senyum simpul) Oke, yuk turun sekolah dulu.

Pak sopir dan pak satpam lega. Tapi saya yang paling lega karena akhirnya si anak mau turun dari mobil.

Berhenti

Februari, secara kalender akademik pendidikan seharusnya masuk term 3. Bukan awal, bukan pula akhir. Namun, sekolah punya kebijakan sendiri untuk menerima murid baru. Dana saya sebagai guru, tentu senang mendapatkan tambahan murid baru. Tambah murid, berarti akan tambah pengalaman hidup.

Biasanya, kalau ada murid baru di pertengahan tahun seperti ini, saya akan menanyai mereka secara singkat. Nama, sekolah lama, dan alasan kenapa pindah sekolah. Semua siswa yang saya tanyai umumnya menjawab dua alasan: karena pindah rumah, atau orangtua pindah tempat kerja sehingga mengharuskan mereka mencari sekolah yang paling dekat dengan rumah baru atau kantor baru orangtua.

Namun kemarin, dari sekian banyak murid baru, saya menemukan alasan yang berbeda. Bukan rumah, bukan pekerjaan. Alasan, yang membuat pikiran saya sontak terseret mundur.

“Orangtua bercerai.” ucap gadis itu dengan mantap tanpa keraguan. Tak ada kesan ingin menutupi. Namun itu justru membuat saya tersekat. Semua teman-temannya terdiam.

“Mama di Bali. Aku pindah ke sini ikut papa,” lanjutnya menambah informasi. Tak ingin menambah lukanya (saya sangat yakin dia sebenarnya terluka atas perceraian itu), saya segera melanjutkan pelajaran.

Usai mengajar, ketika makan siang dengan salah satu sahabat, saya ceritakan kisah singkat itu. Dan kami mendiskusikan topik klasik namun abadi, mengapa dua orang yang menyatukan diri dalam sel bernama pernikahan, pada akhirnya, entah cepat atau lama, memutuskan BERHENTI. BERHENTI bersama. BERHENTI untuk tidak egois.

Dalam perjalanan pulang usai kerja, satu sentilan dari sisi pemikiran saya yang lain menyuarakan analisis yang berbeda. “Mereka memutuskan BERHENTI agar tidak menyakiti, BERHENTI untuk membuat pasangannya lebih bahagia, BERHENTI untuk alasan masing-masing pribadi.

Wall

(Seharusnya 3-4 Januari 2017)

4 Januari 2017.

“Kalau dengan batu magnet para Tao Tei bisa dikendalikan, kenapa semua mata senjata gak pake batu magnet aja ya?” pendapat Vatsa dalam perjalanan kami pulang usai menonton The Great Wall di Kota Kasablanka.

“Filmnya langsung tamat dong, sayang,” sahutku bercanda. Vatsa terkekeh.

“Mungkin latar tempat pada zaman film itu, sulit untuk mendapatkan batu magnet. Bisa juga mereka terlalu mengabaikan hal kecil seperti itu,” sambungku setengah berteriak. Kami memutuskan naik sepeda motor malam itu. Suara harus lebih keras untuk mengimbangi bising kemacetan ibukota pada jam pulang kerja.

“Ya, ya. mengabaikan hal kecil. Mempedulikan hal besar, persenjataan dan segala tetek bengeknya. Pdahal ternyata kunci keberhasilannya pada hal yang dianggap kecil dan remeh,” sahut Vatsa lagi.Berkendara bersama lelaki yang sering memmbuat darahku naik sekaligus merindu ini selalu menegangkan. Sering mataku kupejamkan. Memeluknya erat dan mempercayakan sepenuhnya kehidupan di jalan dalam stirnya. Tentu tak lupa berdoa pada tuhanku memohon keselamatan.

“Aku lapar, sayang. Mau makan apa?” tanya Vatsa kami hampir tiba di rumah.

“Aku tadi masak sate angkringan,” jawabku seolah menegaskan bahwa tidak perlu jajan di luar.

“Ah iya lupa tadi kamu sudah cerita. Sate2an kesukaan kita kalau ke angkringan ya,” tanya Vatsa memelankan laju motor saat jalan turunan dekat gerbang kampung.

“Sate telur puyuh, jamur kancing, usus ayam, dan ati ayam,” jabarku singkat.

Sesampai di rumah, Vatsa menyetujui seratus persen dengan usulku untuk membakar sate2an itu. kami punya alat bakar yang memanfaatkan kompor gas, tidak perlu repot mengipasi arang.

“Enak sekali, sayang. Udah layak jual nih,” puji Vatsa membuat hatiku bungah.

“O ya, udah jadi nyoba cairan penghilang jamur kaca mobil?” tanya Vatsa di sela makan malam kami.

“Iyup. Udah. Mantap banget. Bahkan bisa buat hilangkan noda hitam dan besetan bekas diserempet motor,” jawabku lalu segera menuangkan air putih begitu melihat kesayanganku kepedasan karena sambal rawit mentah buatanku barusan.

“Bagus dong. Bisa moles sendiri jauh lebih murah daripada bayar gopek,” canda Vatsa. Aku pura-pura cemberut.

“Iya tapi badan gempor moles mobil sendirian,” kataku lalu cemberut lagi karena Vatsa berhasil merebut sisa sate terakhir di piring.

Sesaat setelah makan, aku mendapat kabar bahwa mbah kakung Hadi meninggal. Kakak tertua mbah putriku. di Kota Hujan sana. Kami luangkan waktu melantunkan Bapa Kami dan salam maria.

Sebelum tidur, kusempatkan melihat kabar terbaru tanah air. Mengenai kekreatifan warga Indonesia membuat meme berbagai peristiwa. Terbaru hari ini, tentang Novel yang bersaksi di sidang gubernur nonaktif Ahok, menyebut pizza hut menjadi fitsa hats.

gerimis

(Seharusnya 2 Januari 2017)

3 Januari 2017.

Semalam aku dan Vatsa bertengkar. Seperti biasa, hal kecil yang diperpanjang dan diulang-ulang. Beberapa butir air mata yang terajut menjadi lembaran tangis cukup membuatku lelah. Lemas sekali badan usai menangis. Satu jam setelah kami bertengkar, Vatsa meminta maaf. Lalu memasakkanku air panas untuk mandi. Air hangat dan lelah menangis membuatku tertidur jam 10an malam.

Kemarin pagi-pagi sekali kami bangun. Vatsa mulai risih dengan kamar yang sudah lama tidak dibersihkan dengan cara bongkar semua barang-barang. Kubiarkan dia sibuk dengan dirinya dan kamarnya. Aku di dapur. Memasak bersama eyang uti. Mama dan Kinsa entah sibuk apa juga di kamar masing-masing. Siang kami janjian akan natalan ke rumah bruder di ujung barat ibukota.

Perjalanan menuju bruderan sangat lancar. Kurang dari satu jam (biasanya kalau macet bisa mencapai tiga jam) kami sampai di bruderan. Ayam kalkun dan anjing rumahan bermuka herder yang konon dipanggil boboho menyambut kami. Vatsa langsung bermain dengan boboho. Mengajaknya bermain jalan dengan dua kaki. Lalu semua berkumpul di ruang makan. Saling ngudarasa. Berbagi masa kini dan kenangan masa lalu. Pengalaman hidup Vatsa dan Kinsa di asrama. Aku? Aku pun pernah hidup dua tahun di asrama susteran. Namun aku tidak berminat membaginya meski banyak juga yang istimewa. Cukup mendengarkan saja cerita kenakalan dan keisengan Vatsa zaman di asrama dulu.

Lepas Ashar kami pamit pulang. Belakangan aku tidak tahu bahwa ternyata Pak Santa mengabari mama ingin bertemu. Selama perjalanan pulang, mama meminta Vatsa agar menyetir lebih cepat. Ternyata Pak Santa sudah menunggu di mal bilangan Jakarta Selatan. Vatsa tidak nyaman dipaksa cepat-cepat. Apalagi jelas-jelas di depan mata situasi Jakarta begitu macetnya. O yaaa, Jakarta dan macet! Seharusnya sudah tau dan dimaklumi. Jadilah anak dan ibu itu bertengkar. Sang ibu tidak bisa memahami jalanan yang macet, ingin sampai segera janjian dengan mantan besannya. Sang anak tidak bisa mengalah karena disalahkan tidak bis amencari jalan alternatif lebih cepat. Keduanya sahut-sahutan tak henti. Diselingi kata-kata kasar yang semakin membuat adu mulut tak henti.

Dulu sebelum menikah, yang sering aku dengar adalah pertengkaran menantu perempuan dengan ibu mertua. Aku sudah siap. Sangat siap, sebab sudah punya pengalaman dulu ketika mama tiriku pun tinggal bersama ibu mertuanya. Namun kini setelah menikah, lha malah yang sering terjadi adalah ibu dengan anaknya sendiri. Aku, Leia, sang menantu, justru menjadi penengah. Aku dan Kinsa berusaha menengahi debat kusir mama dan Vatsa. Kurang berhasil. Sampai di mal pun masih panas. Mama kami drop di lobi. Lalu kami melanjutkan kestresan mencari tempat parkir. Hampir satu jam. Ini mal gila, pikirku. Kami memutuskan keluar parkiran, beralih ke parkiran tetangga seberang. Seraya membayar parkir, kusarankan ke mbak petugasnya untuk memberitahu satpam agar pintu masuk diberi tanda penuh. Agar manusia-manusia tidak lebih gila dan terlihat bego keliling tanpa ada kepastian tempat parkir.

“Aku lapar sekali, Vatsa. Cari makan yang instan. Yang antriannya sudah terlihat jelas,” pintaku menggayut lengan Vatsa. Lelakiku ini mengiyakan. Kinsa pun setuju. Kami menuju salah satu counter fastfood. Tak lama menunggu, Semangkuk kecil sup ayam dan ayam goreng memenuhi rongga ususku yang sudah kosong sejak siang.

Setengah jam kemudian mama datang. Wajahnya lesu. Lelah, mungkin juga lapar, dan yang pasti membawa kabar tidak menyenangkan. Sebenarnya aku dan Vatsa sudah lebih dulu tau tentang kabar itu.

“Pak Santa tadi curhat ke mama. Wajahnya nampak lebih tua dan capek sekali sepertinya,” mama memulai ceritanya. Kami mendengarkan sambil menghabiskan makanan.

“Pak Santa baru sekarang menyadari kelakuan buruk anaknya sendiri. Demikian juga baru ngerasa kalau Damian memanfaatkan Lies. Selain uang untuk sekolah dan hidup Laily, ternyata selama ini Lies minta uang ke papanya digunakan untuk tambahan uang kuliah Damian.” Mama menghela nafas terdengar berat. Aku memelankan makanku.

“Selain itu, ternyata Damian mulai kasar dengan Laily. Demikian juga Lies mulai sering memukul dan mencubit Laily dengan beragam alasan. Mama kasih saran ke Pak Santa untuk menahan kepulangan mereka ke Jogja. Sebisa mungkin Laily tetap di Jakarta saja bersama Pak Santa. Mama sedih, Vatsa. Mama gak mau liat cucu mama disakiti seperti itu,” mama terlihat masih bisa menahan buliran air mata meski matanya memerah. Aku? Aku justru terbawa pikiran yang campur aduk. Tiba-tiba merasa belum siap merawat anak Vatsa dengan Lies. Namun sisi hatiku yang menguatkan, Leila, bukankah dulu mama tirimu juga bersedia merawatmu penuh kasih sayang? Aku menerawang kosong meski telinga masih mendengar mama cerita.

“Vatsa, kalau kita bawa saja Laily hidup bersama di rumah kita, kamu mau gak?” tanya mama membuat hatiku semakin berdetak kencang. Ternyata tidak semudah dalam rencana. Ketika rencana mulai menjadi nyata, aku malahan merasa ingin mundur. Namun tentu saja tidak bisa. Aku sudah komitmen bersama Vatsa. Menerimanya lengkap dengan masa lalunya yang berbuah seorang gadis kecil.

“Ya, Ma. Ikut sama kita aja. tapi gimana caranya ambil dari Lies? Mama tau sendiri gimana Lies,” Vatsa berang. Tidak terima anaknya dipukul dan dicubit oleh ibunya, apalagi Damian yang belum pasti jadi papa tirinya.

“Nanti kita bicarakan dengan Pak Santa, sebelum seminggu lagi mereka kembali ke Jogja,” ucap mama semakin terbawa emosi. Sementara Vatsa, mama, dan Kinsa terlibat pembicaraan mengenai Laily, aku sibuk dengan pikiranku. Menata kesiapan hati untuk menerima kehadiran Laily. Menata kesiapan mental tatapan dan kekepoan tetangga melihat kehadiran bocah dalam rumah tanggaku yang tiba-tiba sudah besar. Aku, mungkin belum siap tapi harus. Ternyata tidak mudah.

Dalam perjalanan pulang, hampir sampai di rumah, entah awalnya kami membicarakan apa, Vatsa melontarkan kalimat yang membuatku tersinggung. Masalah besarnya uang yang kami keluarkan untuk liburan pekan lalu. Dan ketika samapi rumah, kuputuskn untuk di dalam mobil dulu, agar sama-sama mendinginkan emosi. Satu jam kemudian Vatsa mencariku dan meminta maaf. Ah, baru satu jam marahan aku sudah rindu hangat pelukannya.

PH

1 Januari 2017.

Mungkin tidak penting buat kalian. Tapi aku ingin beritahu satu hal bahwa kalian bisa mengenalku dengan nama Leia. Aku tidak tahu filosofinya. Hanya kucabut dari salah satu nama anak temanku. Terdengar indah dan manis menurutku. Begitu pun aku ingin hidupku indah dan manis, tak hanya dalam fiksi.

Semalam, malam tahun baru, kuputuskan untuk menikmatinya dengan tetangga kompleks. Kami membakar ayam dan ikan di jembatan yang bawahnya aliran sungai terusan ciliwung. Para bapak yang menyiapkan segala peralatan pembakaran, lalu membakar para ayam dan ikan yang telah dilumuri bumbu oleh para ibu. Aku? Termasuk bagian dari anak-anak mereka yang diperbolehkan hanya diam menunggu. Tidak perlu ikut membantu. Duduk manis melihat bara menjilat ayam dan ikan. Sesekali mendongak saat terdengar bunyi kembang api dinyalakan oleh tetangga lain yang mempunyai balkon di lantai atas.

Sekitar jam 23.00 kami selesai menikmati bakaran. Lalu Vatsa mengeluarkan persediaan bir kami yang telah terlebih dulu disimpan di freezer. Sehingga saat disantap terasa segar oleh dinginnya. Vatsa pun mengeuarkan oleh-oleh tuak kalimantan hasil kami jalan-jalan di Jogja pekan lalu. Tak banyak yang suka meski pada akhirnya habis juga. Aku? Tidak terlalu minat juga. Konsumsi beberapa teguk tuak sudah mampu membuat mataku sangat lengket. Tidak, tentu saja aku tidak mau tertidur sebab pergantian tahun tinggal hitungan menit.

Begadang, tuak, bir, dan bakaran ikan ayam membaut tubuhku limbung hingga siang hari tadi. Lemas sekali. Tidak ada yang istimewa di siang pertama tahun baru 2017 selain masih bisa diberi kesempatan bernafas dengan selamat. Masih bisa memeluk perut Vatsa yang semakin mirip ibu hamil 8 bulan.

Pekan lalu, mantan ayah mertua Vatsa memberitahu bahwa Lies tidak mengizinkanku ikut menengok anak. Aku? Kalau boleh berpendapat kasar, “Gue gak peduli!” Pernyataan ketidakbolehan itu membuat Vatsa kecewa. Toh aku tidak pernah mengatur kehidupan barunya dengan Damian, kenapa dia mengatur aku harus pergi dengan siapa untuk bertemu anak, demikian kekesalan Vatsa. Aku hanya menatapnya. Sebab jika aku berpendapat, maka emosi masih menguasainya dan bisa-bisa aku juga dituduh mengatur hidupnya.

Namun tadi, usai kami bangun sekitar hampir jam makan malam, Vatsa memutuskan untuk menengok anak-anak ke rumah mantan mertuanya. Dengan tetap mengajakku meskipun Lies tidak mengizinkan. Dalam perjalanan, pikiranku mencoba masuk dalam masa lalu mama tiriku. Mungkin begini yang dia rasakan dulu ketika dia memutuskan menikah dengan ayah yang telah beranak dua, aku dan kakakku. Dan sekarang, masa lalunya berpindah padaku. Persis situasinya. Mungkin buat banyak orang keputusanku bodoh. Tapi pembelaanku, siapa yang bisa jamin menikah dengan yang sama-sama single bisa selaras setia seumur hidup hingga kembali menjadi debu?

Sampai di rumah Pak Santa, mantan mertua Vatsa, Lies sedang pergi dengan Damian. Berdua saja. Pas sekali. Kami bisa bertemu si gadis kecil tanpa dihalangi Lies. Pak Santa dan istrinya mengajak kami pergi ke Planet Holywood untuk makan malam bersama. Laily sangat senang dengan boneka yang kami belikan ketika di Jogja. Apa yang membuatku senang? (Aku tidak mau menyebutnya sebagai bahagia) Laily menerimaku. Jalan bergandengan. Sesekali si kecil minta kugendong.

Hingga tiba perpisahan usai makan malam bersama. Laily harus kembali ke pangkuan mamanya, Lies. Gadis kecil berambut ikal itu matanya memerah seakan tidak mau berpisah dengan Vatsa. Entah kenapa usai memelukku, kembali dia berlari ke arahku dan memelukku lebih erat. Padahal kami baru bertemu untuk kedua kalinya.

“Nanti kalau anty ke Jogja kita maen bareng lagi ya,” ucapku yang dijawab dengan anggukan ol. Mengucapkan selamat tinggal dengan ayah kandung tentu saja menyisakan sedih.Itu yang kulihat. Namun Vatsa dan aku tidak bisa berbuat banyak. Kami hanya bisa bertemu dalam momen tertentu. Kecuali, jika Vatsa mau berbuat seperti yang dulu ayahku perbuat. Menculikku dari sekolah.

Dalam perjalanan kami pulang, Pak Santa mengabarkan bahwa Lies sangat marah mengetahui Laily bertemu dengan kami. Aku tak bisa berpendapat banyak selain diam. Kuhabiskan sisa perjalanan dengan membaca beberapa situs berita di internet melalui hape lenovoku. Ada dua berita terhangat tahun baru ini versiku. (tentu saja banyak berita lainnya). Pertama, DPO perampokan sadis Pulomas, Ius Pane, telah berhasil ditangkap saat turun dari bis ALS. Kedua, kapal penumpang Zahro Express yang membawa penumpang dari pelabuhan Muara Angke menuju Pulau Tidung Kepulauan Seribu, terbakar. Sampai berita itu kubaca, 23 korban tewas teridentifikasi, 17 hilang, sisanya selamat dan luka-luka. Sang masinis kabur terjun ke laut saat kejadian. Terakhir sebulan lalu aku naik kapal sejenis itu ke Pulau Harapan, ombak pun menghantam cukup keras. Semoga korban hilang segera ditemukan.

Aku, Leia. Kututup hari pertama di tahun 2017 dengan sekaleng heineken sisa semalam. Masih bisa melihat langit terselimut mendung saat tubuhku limbung.

“Terima kasih Leia sudah menemaniku bertemu Ly,” ucapan Vatsa terdengar samar meski masih bisa kurasakan kecupan dan dekapannya.

Berbagi

15.06.2016
On my perfect ‘me time’ before summer holidays.

“Loving can hurt.
Loving can hurt sometimes…
When it gets hard.
You know it can get hard sometimes…
Loving can heal.
Loving can mend your soul…”
(Photograph__Ed Sheeran)

Cuplikan lagu tersebut, mewakili isi film yang baru saja saya tonton di hari yang sempurna buat saya, hari ini. Oh ya, betul sempurna, tanpa didera tanggung jawab mengajar dan segala printilan tetek bengek administrasi. Yeah because holiday is about to come in the next two days, yay!

Mother’s Day. Demikian judul film itu. Yang membuat saya tertarik menonton film keluarga tersebut, karena beberapa minggu terakhir ini, genre film yang saya tonton adalah sejarah, propaganda politik, kepahlawanan modern, dan beberapa aksi heroik lainnya. Jadi saya ingin menonton sesuatu yang berbeda. Terpilihlah genre keluarga tersebut.

Mengisahkan tentang beberapa keluarga yang mempunyai masalah masing-masing. Seperti dalam lirik “Loving can hurt sometimes”. Terkadang, dalam mencintai timbul rasa sakit. Sakit oleh ekspektasi yang tidak sesuai kenyataan. Sakit oleh kecemburuan buta. Sakit oleh perasaan tidak ingin diduakan. Sakit oleh bayangan takut kehilangan.

Sandy, setelah mengalami beberapa penguatan, akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa dia harus bersedia berbagi. Berbagi dengan istri baru mantan suaminya untuk menyayangi kedua anak laki-lakinya. Perhatian dan kegiatan seru yang diberikan ibu tiri, membuat Sandy awalnya takut kehilangan anak-anaknya. Namun pada akhirnya ketika kita percaya kekuatan cinta, bahagia akan selalu bisa digenggam, persis seperti lirik “loving can heal, loving can mend your soul”.

Demikian juga yang terjadi dengan sebuah keluarga (kulit putih) yang mempunyai dua anak perempuan. Orang tua mereka pada akhirnya berdamai dan berbahagia setelah menerima kenyataan bahwa anak pertamanya adalah seorang lesbian. Anak keduanya menikah dengan laki-laki kulit berwarna.

Miranda, mempunyai anak di usia 16. Laki-laki yang menghamilinya meninggalkan dia. Di usia yang masih begitu muda, Miranda belum bisa menerima kenyataan itu. Dia terpaksa “membuang” anak perempuannya yang kemudian diadopsi oleh sebuah keluarga. Saat keluarga tersebut suami istri meninggal, ada satu kejadian yang membuat Miranda berbagi dengan kariernya yang gemilang, untuk bersatu dengan putri kecilnya dulu yang sekarang bahkan telah memberinya cucu.

Terkadang, ada luka dalam mencintai. Ada sesuatu yang berat, sulit diterima. Namun cinta akan selalu memulihkan luka bagi yang tetap setia menyiramkan kasih.

@b_1_p